Jumat, 8 Oktober 2010
11.49 pm
Kamar Kos (Wisma Putri)
Sedih rasanya ketika melihat anak kucing yang berada di tempat-tempat makan. Mereka mengikuti jejak para kucing dewasa menunggu tiap orang selesai makan atau beberapa orang lain yang berbelas kasih untuk melempar tulang bahkan sedikit daging ke arah mereka. Padahal dilihat dari ukuran badan mereka, aku sangat yakin kalau mereka belum menginjak usia yang mampu memakan tulang. Gigi belum tumbuh lengkap, mulut hanya secuil, badan seukuran tangan orang dewasa. Bagaimana mungkin mereka mampu melahap tulang? Mereka seharusnya masih menyusui; masih dipeluk oleh ibu-ibu mereka dalam kehangatan bulu sang ibu yang sepertinya sehangat tidur di dalam selimut.
Ah, sedih rasanya. Melihat anak kucing tersebut, rasanya seperti ketika aku menonton salah satu berita di televisi beberapa bulan lalu. Seorang anak kecil, kelas 1 SD atau 2 SD, sudah mengurusi urusan rumah tangga. Dari mengurus ibunya yang lumpuh, hingga pekerjaan rumah tangga yang tentu saja tidak ringan. Aku tidak pernah membayangkan ada anak sekecil itu yang bisa sangat dewasa sekali dalam menghadapi hidup. Di wajahnya tidak ada kesusahan, matanya lurus – tajam dan serius – ketika mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Aku menangis ketika melihat tayangan tentang anak ini beberapa waktu lalu.
Mereka, yang walaupun berbeda species, tetap saja seorang anak kecil – yang fisiknya masih sangat rapuh. Mereka, dihadapkan dengan kenyataan bahwa mereka tidak bisa lagi bermanja dibawah ketiak orang tua mereka. Mereka, hanya bisa pasrah bahwa merekalah yang harus turun tangan – tanpa mengerti betul kenapa mereka yang harus turun tangan.
Rasanya sama persis baik sedih dan mirisnya ketika melihat anak kucing tersebut, dengan anak manusia tersebut – sama-sama anak kecil yang sedang berjuang seperti orang dewasa…
ini ga pernah diapdet lagi nih??